Kamis, 20 Januari 2011

The Song

Diposting oleh ainahafizah di 18.49
Seorang gadis cantik dengan rambut cokelat panjangnya yang tergerai berjalan anggun di tengah kegelapan malam. Matanya yang sewarna dengan birunya langit di musim panas berkilat merah. Bibir tipisnya bergerak-gerak menimbulkan resonansi yang dihasilkan oleh pita suaranya. Senandung lirih mengalun pelan seiring langkah kecilnya. Gaun merah darahnya menyapu jalan di lorong gang yang gelap perlahan menghisap siluet indah itu ke dalam pekatnya malam.
The Song

“Sedang memikirkan lagu itu lagi?”, tanya seorang pemuda pada temannya yang sedari tadi melamun.
Gadis, teman pemuda tersebut, menoleh kemudian memberikan senyum manisnya.
“Hufh…, sebaiknya kau beristirahat. Tidak perlu memikirkan khayalanmu itu terus.”, nasihat si pemuda sambil sibuk mengeluarkan buah-buah apel merah dari sebuah kantong transparan yang dibawanya tadi, menyusunnya di sebuah piring besar di samping tempat tidur tempat si gadis berada.
“Aku tidak berkhayal, Alren. Semuanya nyata.”, sahut si gadis sembari menatap keluar jendela. Ia sama sekali tak bergerak dari tempat pembaringannya.
“Bukannya aku tidak percaya padamu. Hanya saja…”, sahut si pemuda berambut hitam itu sembari mengupas apel di tangannya.
“Hanya aku yang mendengarnya. Itu yang mau kau katakan.”, timpal si gadis.
Si pemuda yang telah selesai dengan apel pertama yang dikupasnya menyodorkan piring kecil yang telah berisi potongan-potongan apel kecil kepada si gadis.
“Terima kasih.”, si gadis tersenyum sembari menerima piring kecil tersebut dengan tangan kurusnya. Kecantikannya sedikit memudar akibat penyakit yang dideritanya. Wajah putihnya semakin tirus dan rambutnya yang semula berwarna hitam kelam kini menjadi kemerah-merahan.
“Setelah ini kau harus beristirahat dengan tenang.”, nasihat Alren.
Gadis itu mengerut. “Kau mendoakan aku mati?”
Pemuda berkulit tan yang telah siap meninggalkan ruang inap sebuah rumah sakit swasta itu pun terdiam sejenak, mencermati kalimat yang terlontar dari bibirnya dan dari bibir gadis di hadapannya.
“Ah, bukan itu maksudku.”, kata Alren sembari menggaruk kepalanya, salah tingkah. “Maksudku kau tidak usah berpikir yang aneh-aneh lagi. Terutama tentang lagu aneh yang sering kau ceritakan itu.”
Gadis yang dinasihati itu pun hanya bisa tersenyum, membatin ‘Seandainya aku tak mendengarnya, aku pun tak akan memikirkannya’.
“Sudah ya, aku mau pulang dulu. Besok, aku akan ke sini lagi. Sampai jumpa.”, ucap Alren, tangan kanannya sudah memegang kenop pintu.
Si gadis hanya melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Setelah Alren pergi, gadis itu kembali menatap satu-satunya akses baginya menatap dunia luar dari ruang kamarnya yang sempit. Bibirnya perlahan menyenandungkan sebuah lagu. Lagu yang selama ini menghantui hari-harinya.
Lagu itu, lagu yang sama, kembali terdengar. Gadis itu bangun dari tidurnya. Menatap jendela yang belum ditutup tirainya. Mata hitamnya menjelajahi kota yang ada di hadapannya. Matanya terhenti di sebuah masion besar yang berdiri gagah di tengah-tengah kota.
Gadis itu ingat. Akhirnya ia ingat lagu itu. Lagu yang dulu pernah didengarnya bertahun-tahun lalu. Lagu yang mengiringi kobaran api di rumah mungilnya. Lagu yang menyemarakkan jerit histeris kedua orang tuanya.
Mata gadis itu membesar. Mulutnya ternganga dengan kedua tangan yang berusaha menutupi kekagetannya. Mansion itu. Mansion mewah yang sedari tadi ia perhatikan kini porak poranda. Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat. Suara tembakan itu pun terdengar bersamaan. Jerit histeris itu terdengar merdu dengan berbagai suara yang berbeda.
Tubuhnya bergetar. Tangan kurusnya berusaha memeluk tubuhnya, berusaha menenangkan diri. Perlahan ia jatuh terduduk di lantai porselen rumah sakit yang dingin, menambah rasa sesak yang memenuhi dadanya. Air mata perlahan turun dari kedua kelopak matanya yang sedari tadi tertutup rapat.
Gadis cantik bergaun merah itu, lagu itu, bagaimana bisa ia melupakannya?!
Gadis cantik dengan mata birunya yang indah namun terdapat kilatan merah di sana, berdiri anggun di tengah kobaran api yang melahap masion mewah itu. Bibirnya yang menyenandungkan lagu itu. Lagu penghantar kematian.
Satu lagi. Satu lagi ia kehilangan temannya, sahabatnya, kekasihnya. Kehilangan orang yang berharga untuknya. Masih sangat segar di ingatannya, bagian mansion yang pertama kali terdengar suara tembakan sekaligus bagian yang pertama kali dilahap api. Bagian di mana terdapat kamar dengan tulisan ‘Alren Room’ di depannya.
Gadis itu menggigil hebat hingga sebuah sentuhan menghentikan getaran tubuhnya. Ia mendongak untuk menemukan senyum seorang gadis lain di depannya. Gadis lain itu berhenti tersenyum karena bibirnya kini ditugaskannya untuk menyenandungkan lagu. Lagu yang sama, tak ada satu lirik pun yang diubah. Suaranya terdengar begitu merdu namun sang lagu membuatnya terdengar lirih dan sedih.
Lantunan lagu itu menghilang seiring menghilangnya siluet gadis bergaun merah itu.
Gadis itu memejamkan mata, mencoba menyambung lirik lagu yang tak selesai dinyanyikan oleh gadis bergaun merah itu. Ia memang sering menyenandungkan lagu ini, namun kali ini berbeda. Berbeda saat dirasanya nafasnya menghilang seiring hilangnya nada-nada di udara. Kini ia mengerti letak keindahan lagu itu tatkala ia kehilangan dunianya.

 Martapura, Mei 2010

0 komentar:

Posting Komentar

 

Aina's Room Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea