“Ya, sampai jumpa. Wa’alaikumsalam”, ucapku seraya menutup panggilan telepon. Aku menatap layar ponselku yang menampilkan potret wajahku sebagai wallpapernya. Aku tersenyum, membiarkan layar ponsel.mulai menghitam, memantulkan senyumku. “Baiklah, saatnya bersiap-siap, sebelum Nona Cerewet itu mendesakku lagi”, aku terkikik geli ketika menyebutkan pet name yang kuberikan pada salah satu teman baikku itu. Rasanya agak asing di lidahku.
Aku membiarkan ponsel hitamku tergeletak di atas ranjang ketika aku berjalan menuju lemari pakaianku. Aku membuka salah satu pintu lemari yang di dalamnya terdapat jilbab-jilbab koleksiku. Seharusnya aku mendapati koleksi jilbabku yang berwarna-warni seperti pelangi. Kata kuncinya adalah ‘seharusnya’. Jadi yang kulihat sekarang hanyalah sebuah pashmina merah. Sebuah pashmina tua. Jilbab pertamaku.
Pashmina Merah
Aku mendengus, merutuk kemalasanku. Aku membiarkan jilbab dan pakaianku bertumpuk di keranjang pakaian kotor, mendiamkan mereka tergeletak tak berdosa di samping mesin cuci. Akhir-akhir ini sering hujan dan sialnya aku seringkali kehujanan saat bepergian. Alhasil, pakaian kotorku menumpuk. Parahnya lagi, aku terlalu malas untuk mencucinya.
Aku meraih pashmina merah, jilbab satu-satunya yang tersisa dalam lemariku, dengan tangan kananku. Aku menepuk-nepuk pelan pashmina yang sudah tua itu, membersihkannya dari debu yang menempel. Entah sudah berapa lama aku tidak memakainya. Aku tersenyum kecil ketika mengingat sudah berapa lama pashmina ini bersamaku. Kurang lebih lima tahun. Kuhitung sejak aku masih duduk di kelas 2 SMP.